Montessori adalah metode pembelajaran yang akan membebaskan anak untuk memilih kegiatan sesuai dengan minat dan bakat mereka. Dengan membebaskan si kecil untuk memilih apa yang mereka sukai, ternyata memiliki dampak positif dalam tumbuh kembangnya.
Metode montessori ini cocok sekali diterapkan untuk pendidikan anak usia dini, sekitar 3-6 tahun. Tetapi, montessori juga bisa diterapkan untuk anak sekolah, mulai dari SD sampai SMA.
Awal Mula Metode Montessori
Di awal tahun 1900-an, seorang dokter bernama Maria Montessori yang berasal dari Italia mengembangkan sebuah metode pembelajaran, Montessori.
Metode ini dikembangkan karena ketertarikan Maria montessori terhadap dunia pendidikan dan perkembangan anak.
Lalu, dibuatlah sebuah metode pembelajaran yang dapat membantu anak untuk mecapai potensi terbaik mereka di dalam kehidupan. Fokusnya adalah menekankan anak untuk lebih mandiri dan aktif. Caranya adalah dengan konsep pembelajaran langsung melalui praktik serta permainan kolaboratif.
Perbedaan Montessori dengan Metode Tradisional
Jika dibandingkan dengan metode tradisional, montessori lebih fleksibel. Kenapa begitu? Hal ini karena anak diberi kesempatan untuk memilih sendiri apa yang ingin mereka pelajari. Berbeda dengan metode tradisional yang metode pembelajarannya ditentukan oleh guru.
Kebebasan ruang gerak anak di dalam kelas juga terdapat perbedaan. Metode montessori membebaskan anak untuk bergerak bebas di kelas, sedangkan pada metode tradisional, anak harus duduk di meja selama proses belajar.
Walaupun manfaatnya banyak, montessori ini ternyata belum tentu cocok untuk semua anak dan kondisi keluarganya. Jadi, sebelum Anda memilih montessori sebagai metode pembelajaran, pikirkan baik-baik dan pertimbangkan dengan matang.
Tapi, kalau memang tertarik menyekolahkan anak di sekolah yang menggunakan metode ini, Anda bisa mencoba mengikutkan kelas uji coba terlebih dahulu untuk melihat bagaimana kondisi anak ketika mengikuti kegiatan belajar berbasis montessori.
Apa Saja yang Dikembangkan dalam Metode Montessori?
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, fokus dalam metode montessori adalah pengembangan kemandirian dan keaktifan si kecil. Oleh karena itu, ada beberapa fokus bidang yang dikembangkan dalam metode ini.
1. Sensorik
Metode montessori akan mengasah kemampuan sensorik anak lewat berbagai permainan. Stimulasi sensorik yang dilakukan ini bisa dengan bermain pasir, berkebun atau bercocok tanam, bermain menggunakan berbagai jenis kacang, dan lain sebagainya.
Dengan fokus pada sensorik si kecil, maka anak harus tetap aktif bergerak, sehingga, kemampuan motorik anak akan berkembang.
2. Matematika dan Sains
Seperti metode pembelajaran tradisional, montessori juga tetap mengajarkan matematika dan sains. Seperti pengenalan angka, penjumlahan, pengurangan, mengenal ukuran, perkalian, dan lainnya.
Bedanya, metode montessori ini mengombinasikan antara matematika dan sains dengan permainan edukatif. Contohnya seperti tebak angka, puzzle, atau bisa juga dengan membuat percobaan sederhana yang bisa dilakukan oleh anak.
Hal ini tentu akan membuat pembelajaran matematika dan sains menjadi lebih menyenangkan serta anak jadi tidak cepat bosan.
3. Kemampuan Berbahasa
Bukan hanya matematika dan sains saja yang diajarkan, tetapi juga kemampuan berbahasa. Tentu saja, penyampaian pembelajaran dilakukan dengan atraktif dan menyenangkan.
Seperti misalnya, anak mempresentasikan sebuah cerita, diskusi grup, atau bisa juga story telling. Semua itu membuat anak jadi tidak merasa seperti sedang belajar, tetapi sambil bermain mereka juga mendapatkan ilmu.
Selain ketiga materi tersebut, ada beberapa materi lainnya yang juga diajarkan dalam metode montessori, seperti budaya, seni, olahraga, sejarah, dan masih ada yang lainnya. Tentu semuanya disampaikan dengan lebih menarik untuk anak-anak.








